Rumah Blogfam

Kumpulan blog dari para blogfamers :D

I Luv U Honey

Hari Minggu lalu gw baru balik dari Surabaya setelah seminggu gw menjalankan tugas, tapi baru ketemu 2 hari dengan my Honey, udah di tugasin balik Ke Surabaya
Tapi terus terang gw ga tau Rute-rute di Surabaya, akibatnya gw masih aja kesasar, tapi untung gw bisa nanya, "Malu bertanya sesat di jalan, Banyak bertanya Malu-maluin" hehehe
Malam ini gw hanya kangen sama Istriku yang Cantik dan tercinta..
Kadang gw merasa bersalah kalau gw telat balas smsnya,padahal walaupun cuman dengan kata iya, bisa membuatnya tenang
Sebagai suami gw harus membuat dia merasa tenang, walaupun gw pergi jauh, agar gw juga bisa tenang..
Pulang2 gw dapat kecupan hangat dan pelukannya...
I Luv u honey....

Yang Satu Lagi Sponsornya Sabun

Seorang penonton di salah satu bioskop Bandung menunjuk pajangan poster film dan berkata, "Kalau ini yang Sang Pemimpi, kenapa Suster di film sebelah yang Keramas?"

Hujan di Jakarta

Hari ini

Hari yang biasa

Pengennya make Batik kayak orang – orang kantoran yang lain, tapi kepikiran saat udah naik angkot, padahal itu Batik gw pertama yang gw beli dari Jogya, hehehehe

Hari ini Jum’at, Sholat jum’at  dan besok Libur [weekend]

Ke Purworejo, pengen nemuin sang istri tercinta [ hehehe Pengantin baru..], tapi harus sabar dulu, sekalian nanti jika gw di Mutasiin disana dalam waktu dekat ini..

Jadi Sabtu – Minggu besok gw mau ngapain yah….

Mau jalan, Shopping [bukan waktunya lagi, udah waktunya mulai nabung, buat nambah-nambah beli sayur , ……..sisanya beli mobil…heheheh, ngarepppp]

Akhir-akhir ini setiap hari hujan, jadinya gw gak nyuci, padahal cucian gw udah numpuk neh, ditambah lagi Giliran PLN tersendat – sendat nyalain listriknya, tapi buat gw sampai saat ini belom ada masalah..

Tapi yang lain pasti lebih berat, apalagi yang hidupnya tergantung dari listrik [ makan listrik kale….apa ga kesetrum tuh…]

Kapan yah gw punya pesawat sendiri, biar gw bias bolak balik Jakarta –Purworejo, yah minimal gw bisa menembus ruang waktu…

Ada gak yah teknologinya?

Katanya ntar pasti ada….

 

Hanya Allah yang tahu…

Demikian cerama Jum’at kali ini

Wa ssalamu Alaikum Wr. Wb

Peluang Bisnis BEBAS RESIKO: Joinnya Gratis, Kerjanya Mudah

Hai teman-teman semua, :)

Udah pada tahu dong kalau sekarang ada banyak sekali cara untuk bisa mencari uang melalui internet. Ada yang berbayar, ada yang gratis. Kalau saya, tentu lebih suka yang gratisan, hehe :D

Terkait dengan hal itu,.. Nah... Barusan saya browsing dan menemukan sebuah situs bisnis yang menarik. Namanya GratisMudah.Com.

Kenapa menarik? Alasannya adalah karena untuk join (bergabung) di situs tersebut biayanya Rp 0 saja, alias gratis.

Eits, tapi walaupun gratis, ini bukan berarti bahwa hasilnya juga "gratis". Bahkan hasilnya hasil yang "mahal" karena situs itu memberikan bayaran hingga Rp 277 juta+ untuk member-membernya.

Asyik kan? :)

Mana ada lagi kan program bisnis yang joinnya gratis tapi menawarkan (dan membuktikan) untuk memberikan jutaan rupiah seperti itu?

Kenikmatan duniawi ini namanya ^_^!

Oh iya, selain joinnya gratis, kerjanya juga gampang banget...

Cara kerjanya cukup mudah, kita hanya diperintahkan untuk menawarkan orang lain datang ke URL tertentu. Setiap kali orang lain bergabung dengan situs yang dituju, kita akan mendapat bayaran Rp 25. Semakin banyak kita menyebar URL-nya, semakin banyak juga komisi yang kita dapat.

Dan sebagai catatan: untuk bergabung di URL yang diberikan tersebut biayanya adalah Rp 0 (GRATIS), sehingga dijamin tidak akan sulit untuk merekrut orang supaya join di URL yang dituju. Soalnya, mana ada sih orang yang nolak join bisnis gratisan tapi prospektif... ;)

Dan terakhir, jangan khawatir bakal rugi karena di bisnis ini kita tidak bisa rugi. Kenapa? Karena daftarnya gratis jadi bener-bener TIDAK ADA RESIKO & TIDAK MUNGKIN RUGI.

Intinya: Benar-benar asyik! Benar-benar gampang!

Benar-benar sesuai namanya: GRATIS dan MUDAH!

Penasaran kan? Ingin join kan? Ingin tahu gimana cara kerjanya?

Ok, silakan langsung join di ==> http://gratismudah.com/?id=delakeke

Ingat: pendaftaran GRATIS jadi TIDAK MUNGKIN RUGI apa pun untuk join. Jangan khawatir rugi sama sekali.

Dan ingat juga: cara kerjanya sangat mudah. Makin aktif Anda bekerja (tanpa biaya), makin besar komisinya.

Sekali lagi, langsung join di sini! ==> http://gratismudah.com/?id=delakeke

Catatan:

[1] Tolong banget ikuti link-nya, baca penjelasannya, terus join programnya (GRATIS). Sesudah itu, tolong lihat-lihat isi member area-nya. Ada beberapa info menarik di sana.

[2] Setelah melihat member areanya, tolong tulis pendapat teman-teman tentang program tersebut di note ini.

BTW, di dalam member areanya ada banyak tawaran bonus ebook gratis lho... bakal rugi kalau enggak join & gak ngikutin penawaran bonus-bonusnya, :)

[3] Masih belum join? Ya ampuun... ^_^"

Langsung join di sini! ==> http://gratismudah.com/?id=delakeke

Do’a Kami

Ya Allah, semoga halangan-halangan dan rintangan  sebelum memulai dan nantinya, bisa kami atasi dengan hati yang tenang

Semoga semua bisa menerima kami , sebagai sebuah keluarga, keluarga yang bisa bahagia, dan penuh keceriaan

Semoga kami bisa belajar dari kehidupan-kehidupan yang kami jalani selama ini, menjadi bijak dengan segala kelemahan kami

Menjadi Keluarga Sakinah, Mawaddah Wa Rahma

Amin…

Hatiq Gelisah

Mendekati hari yang terindah terasa hati gelisah
Apakah karna hari yang mendekat atau hati yg tersebar dibeberapa hati
Adakah hal yang bisa memantapkan hati ini, agar gelisah tak menghampiri
Terus terang, aku tak pernah melupakan hati-hati yang pernah singgah
dan pergi, walaupun dengan sangat menyakitkan

Bismillahirrahmanirrahiim

Bismillahirrahmanirrahiim..
Ya Allah, semoga Engkau meridhoi jalan yang akan kutempuh
Semoga Engkau meluruskan jalan kami...

Hari ini gw memantapkan hati untuk meminangnya dihadapan Keluarganya,
serasa perasaan ini sedikit bahagia, selebihnya sangat bahagia..
Walaupun suasananya serba mendadak, tapi hati ini sudah siap jauh sebelumnya..
Dia yang kukenal begitu cepat, tapi aq yakin Dia telah
mempersiapkannya sejak aq diciptaknNya..

Purworejo, Kota yang gw baru kenal sejak gw ditugasin disini sejak gw
terdampar di Pekanbaru selama setahun, dan di kota ini, gw ketemu
dengannya dan membuat janji untuk hidup bersama dengan segala dan
kekurangannya
"Icca, bersediakah kamu menikah denganq?"

Ketidakpahaman diriku

Apa yang aku lakukan bukanlah buat dirimu merasa terabaikan
Aku akui rasa sayang itu tetaplah ada buatmu, tapi buat mengulangnya aku ga sanggup lagi
Aku ga membencimu, tapi dengan begini aku tak ingin sakit lagi..
Aku berharap, semoga engkau bahagia, dan selalu ada yang terbaik buatmu
Kita jalanin kehidupan ini dengan sederhana, sehingga kita bisa menjalaninnya dengan ringan
Maaf [hanya itu jawabmu]
Membuat aku hanya bisa merangkum semua kesalahan dan ketidakmengertianku

 


Cukup sampai disini Kenanganq

Semalam gw ingat dirimu, yang pernah dihatiku, yang pernah buat gw
menyerahkan hati sepenuhnya, yg pernah kupanggil "sayang" dan yg
pernah sangat mengecewakanku..
Semalam qt bercerita sedikit masa lalu,selebihnya adalah cerita yang
menggambarkan tentang qt disaat ini
Semalam qt bwt janji untuk bersua dan hari ini qt menyusuri kota
jakarta dan menikmati peradabannya kemudian kita menuju ujung utara
menikmati deru ombak, dipinggir pantainya ancol sampai menjelang waktu
cinderelamu..
Sangat indah tentunya, tapi gw telah membuat seseorang disana , my
honey menunggu say hello dariq..
I am sorry honey, hanya hari ini saja gw berbuat begini..,gw akan
tetap setia padamu, tak akan ada orang lain lagi dihari-hari kita..
Kenanganku...,makasih atas warna yang engkau berikan buat gw.,tapi
cukup sampai disini..,"just fun aj" seperti yang engkau ucapkan
tadi..,qt telah bertemu, makasih dan makasih..gw akan melangkah
kesana, ada kebahagiaan disana menanti..,apa yang gw berikan buatmu
hari ini, itulah diriku...

Coraline: Novel Grafis yang Mengadaptasi Karya Neil Gaiman

Mengapa film horor Asia (Jepang, Thailand, bahkan Indonesia) sering menggambarkan hantu perempuan berambut panjang dengan gaun putih? Karena itu merupakan bagian dari stereotip kecantikan.

Dengan menggunakan stereotip kecantikan dalam pakem horor, penonton akan lebih terganggu. Kita jadi bingung saat batas antara menyenangkan dan menyeramkan terlanggar. Otak kita memaksa kita untuk menjauhkan diri dari apa pun yang kita lihat. Tapi setelah menghindar, kita malah merasa kehilangan; tertarik melihat lagi.

Itu juga sebabnya ketakutan-ketakutan masa kecil (atau besar) kita biasanya merupakan pelanggaran antara batas tersebut. Ketakutan masa kecil saya, misalnya, adalah menemukan Drakula boker di kamar mandi. Tidak terbang mengancam. Tidak lari mengejar. Tapi duduk santai sambil baca koran dan meminta saya menutup pintu.

Justru itu yang membuat saya ketakutan setengah mati. Karena batas antara kehidupan biasa dan tidak biasa menjadi kabur.


Kesederhanaan yang Merindingkan Bulu Kuduk

Coraline adalah karya seperti itu. Bukan karena memuat Drakula boker. Melainkan karena mengunyah batas antara menyenangkan dan menyeramkan, lantas meludahkannya sembarangan.

Tokoh utamanya adalah anak sebelas tahun, yang entah bagaimana, masih memiliki pikiran seterbuka bocah usia lima tahun.

Ya, bocah usia lima tahun--karena ia bisa menerima banyak keanehan tanpa panik. Sebagai contoh, saat ia menemukan sisi dunia lain di apartemennya, ia menemukan para "orangtua yang lain" yang mirip dengan orangtuanya. Bedanya, gigi ibunya tidak sepanjang itu. Jari dan kukunya tidak setajam itu... yang tentunya menyulitkan dalam melakukan beberapa hal tertentu.



Sori, bercanda. Itu nggak terjadi di novel grafisnya. Yang paling mencolok bagi Coraline: mata ibu yang ini terbuat dari kancing.

Kalau saya mendadak menemukan ibu yang lain seperti itu, bisa jadi saya pingsan berdiri. Sementara Coraline? Bukan hanya tenang. Ia ikut makan siang dengan mereka. Dan ia menikmatinya dengan lahap.

Ia bahkan tetap tenang saat disuruh bermain bersama barisan tikus bergigi tajam yang bisa bicara dan--dengan sangat horornya...



... menyanyikan lagu Kangen Band!

Maaf, saya nggak bisa menahan diri. Kembali serius, mereka menyanyikan lirik seperti, "Kami di sini sebelum engkau jatuh, dan kami akan di sini saat engkau bangun." Tidak ada lirik eksplisit yang mengancam akan membunuh atau mencincang kita. Justru karena itu, begitu mengganggu.


Harapan Neil Gaiman?

Anak sebelas tahun biasanya sudah terpolusi oleh dunia nyata. Atau lebih parah: oleh orangtua. Sehingga mereka tidak lagi berpikir kemungkinan. Hanya apa yang biasa. Semua yang tidak biasa tidak mungkin ada.

Mungkin Coraline merupakan harapan penulisnya sendiri, Neil Gaiman. Bahwa anak usia sebelas tahun sebaiknya tetap seperti itu: seorang perambah dan penjelajah. Tidak perlu harus punya cita-cita yang akan bagus kalau diceritakan di depan kelas. Tidak perlu sudah bisa hapal semua tabel perkalian hingga tiga digit. Dan tidak perlu bisa memberi kesimpulan yang penuh logika untuk bertindak. Sebagaimana jawaban Caroline saat dipertanyakan oleh sang Kucing mengapa ia berkeras mau menolong orangtuanya padahal ia takut: "Karena mereka orangtuaku."

Rambah. Jelajah. Tetaplah jadi anak-anak.


Penceritaan Visual yang Mengalir

Keuntungan sebuah novel grafis adalah visualisasi. Dan penggambaran Philip Craig Russell sangat mendukung nuansa ini. Paduan warna-warni cerah menemani perang antara cahaya dan ketiadaannya. Penggambaran dunia yang lain tanpa berlebihan; membuat seakan-akan wajar saja kalau anjing kelurahan sebelah bersayap dan suka nonton pertunjukan vaudeville. Coraline bukan kerja sama pertamanya dengan Gaiman, melainkan kelima. Ia sudah paham apa yang ingin disampaikan Neil. Bahkan begitu muncul ide adaptasi Coraline dalam bentuk novel grafis, Neil sendiri yang langsung meminta Russell untuk melakukannya.

Keakraban Neil Gaiman sendiri dengan format novel dan komik juga membantu kelancaran adaptasi ini. Gaya Narasi Neil memang visual, memudahkan kita untuk membayangkan. Ia paham bahwa kekuatan visualisasilah yang mampu membuat kita merinding tiada tara. Pertama-tama, Gaiman memunculkan citra kuat seorang ibu dalam benak kita; pelindung, penyayang, dan tegas. Lantas menghancurkannya dengan citra jari panjang berkuku tajam dan mata kancing; menunjukkan identitas aslinya...


...sebagai Mbah Surip.

Oke, serius, tadi itu bercanda terakhir. Sebagai makhluk yang justru kebalikannya dari seorang pelindung dan penyayang.


Kurangnya Ketelitian Penyunting

Yang saya sayangkan adalah kurangnya ketelitian penyunting. Dari sampul saja sudah terlihat bahwa penerjemah dan penyunting tidak sadar bahwa Harvey Award dan Eisner Award adalah dua penghargaan berbeda; bukan satu penghargaan dengan nama "Harvey and Eisner".

Itu mungkin tampak seperti hal yang remeh. Namun bagi saya fatal. Konteksnya jadi keliru. Hal seperti ini terjadi beberapa kali dalam Coraline versi Indonesia terbitan M&C ini. Kabar baiknya: pembaca seperti saya jumlahnya sama seperti pengemudi motor yang tidak menyelip-nyelip di antara kepadatan mobil. Suara kami tidak akan terdengar; kalah jauh dibandingkan mayoritas.


Pertanyaan Penting: Karya Ini Untuk Dibaca Siapa?

Neil Gaiman menulis novel aslinya untuk pembaca anak-anak. Dalam situsnya, Neil berkata bahwa ia membacakan Coraline untuk anaknya, Maddy, pada saat usianya enam tahun.

Ini bukan berarti Coraline hanya untuk anak-anak. Seperti yang dikatakan Agung dalam resensinya, "...para orangtua yang berpendapat sebuah komik anak-anak nggak akan mungkin berhasil menakut-nakuti diri mereka yang gagah perkasa, jangan menyesal kalo belakangan harus bangunin anak untuk minta ditemenin pipis."

Pendapat ini diperkuat Holly, anak Neil Gaiman sendiri. Ia membaca Coraline saat berusia enam belas tahun. Khawatir, Neil berkata, "Semoga kamu nggak terlalu tua untuk [bacaan] itu." Holly menjawab, "Aku rasa tidak akan ada yang terlalu tua untuk membaca Coraline."

Bagi yang masih penasaran, situs HarperCollins menyediakan pratinjau empat puluh halaman awal Coraline (tentunya versi Inggris). Namun, kalau sudah terpikat tanpa itu, langsung saja cari versi Indonesianya di toko-toko buku. Dengan lima puluh lima ribu saja, Anda bisa punya alasan untuk mempererat hubungan kekeluargaan... dengan pergi pipis malam bareng-bareng.