Parodi Tokusatsu (dalam Lima Menit)
Jawaban saya: betul. Tapi setidaknya mereka niat dalam membuat cerita yang ancur. Bahkan kostum yang ancur pun konsisten. Memang diniatkan. Bukan karena minim kepedulian.
Untuk menunjukkan betapa niatnya acara tokusatsu untuk bikin tayangan yang ancur, saya akan menulis ulang sebuah skenario parodi tokusatsu yang saya tulis sepuluh tahun lalu.
Bagi pembaca awam yang belum tercerahkan, Spaced-out Gyuvan adalah parodi dari Space Cop Gaban dan Arga 0815 adalah parodi dari Saras 008 yang disponsori oleh Indosat ketika para eksekutifnya entah sedang mabok apa.
SPACED-OUT GYUVAN VS ARGA 0815
EXT. DAERAH ANTAH BERANTAH YANG BANYAK TEBING DAN BATU - SIANG HARI
Seorang CEWEK tampak berlari-lari ketakutan, sesekali melihat ke belakang, ke arah pengejarnya.
CEWEK:
(berteriak)
Tasuketeeee!
Yang dalam bahasa Indonesia artinya: toloooong! Berhubung latarnya antah berantah, mendadak terasa wajar sekali jika para tokoh dalam cerita ini bisa bahasa Jepang campur Indonesia dan Inggris.
SPACED-OUT GYUVAN tampak duduk di atas batu, bersilang kaki, sudah dalam baju tempur. CEWEK lewat di depan GYUVAN, melintas kamera.
CEWEK (O.S.) (CONT'D):
(berteriak)
Tasuketeeee!
SPACED-OUT GYUVAN masih termenung. CEWEK kembali ke samping SPACED-OUT GYUVAN.
CEWEK (CONT'D):
Woi, tasukete, oi!
(menendang GYUVAN)
SPACED-OUT GYUVAN:
(baru nyadar)
Hah?
Mendadak muncullah MONSTER.
MONSTER:
(suara seram)
Aaaku mooonster!
SPACED-OUT GYUVAN:
(mengajak salaman)
Gyuvan.
MONSTER dan SPACED-OUT GYUVAN bersalaman.
SPACED-OUT GYUVAN (CONT'D):
Ada apa, ya?
MONSTER:
(berubah sopan)
Nggak, ini... aduh, permisi yah. Tapi aku kan lagi ngejar cewek nih, teru--HEY!
(baru nyadar)
Gua MONSTER, geblek!
SPACED-OUT GYUVAN:
Lho, yang bilang bukan, siapa?
Seakan menjawab, datanglah JENDERAL MUSUH bersama PARA PRAJURIT MUSUH figuran.
JENDERAL MUSUH:
HAHAHAHA! Jadi kamu ingin menghalangi kami, Spaced-Out Gyuvan?
PARA PRAJURIT MUSUH:
Ki! Ki! Ki! [terjemahan bebas: Ya! Ya! Ya!]
GYUVAN:
Euh, pilihannya apa aja?
JENDERAL MUSUH:
A) "Tentu saja, saya adalah pejuang keadilan!"
B) "Tapi hari ini sedang libur."
C) "TIADA LIBUR BAGI PERJUANGAN MENENTANG KEJAHATAN!"
D) "Kecuali kalau long weekend."
GYUVAN:
Oke, lelucon Who Wants to Be a Millionaire udah basi nih. Jadi kita perlu cara lain untuk mengalihkan situasi.
Mendadak terdengar suara angklung dari kejauhan memainkan satu lagu Beethoven. Semuanya langsung mencari-cari sumber suara, bukan karena kaget, melainkan karena ingin memberi tahu pemainnya, kalau di dunia nyata tidak mungkin bisa memainkan lagu Beethoven yang mana pun cuman dengan menggunakan satu angklung.
Tampak SATU BAYANGAN JAUH DI ATAS TEBING bergerak seperti meneriakkan sesuatu. Tapi karena terlalu jauh, tidak terdengar jelas.
JENDERAL MUSUH:
Ee?
(menunjuk ke BAYANGAN)
Omae ha dare da? [terjemahan bebas: Siapa kamu?]
PRAJURIT MUSUH:
Ki! Ki! Ki! [terjemahan bebas: Dare da! Dare da! Dare da!]
SATU BAYANGAN JAUH DI ATAS TEBING kembali meneriakkan sesuatu. Masih tak jelas.
JENDERAL MUSUH:
(masih menunjuk)
OMAE HA DARE DA!?
PRAJURIT MUSUH:
KI! KI! KI! [terjemahan bebas: DARE DA! DARE DA! DARE DA!]
SATU BAYANGAN JAUH DI ATAS TEBING lagi-lagi meneriakkan sesuatu yang tak jelas.
JENDERAL MUSUH:
Ah, udah lah, lupakan. Nggak kedengeran sama sekali.
(membalik ke GYUVAN)
Hahaha, jadi kamu ingin menghalangi kami, Spac--
SATU BAYANGAN JAUH DI ATAS TEBING PAKAI MEGAPHONE:
Cek, cek, satu dua tiga. OIII! TUNGGU GUA TURUUN!
CUT TO:
Situasi di atas tebing, memperlihatkan seorang PEMUDA kurus dengan jaket merah, tas pinggang hijau, dan cambang panjang yang berkibar ditiup beberapa pemuda lain di luar pandangan kamera--mereka dibayar khusus untuk itu, karena kebetulan di sana tidak berangin dan biaya SDM di Indonesia jauh lebih murah daripada teknologi kipas angin.
BGM: suara angklung masih mengalun di latar belakang.
PEMUDA menoleh ke PEMAIN ANGKLUNG.
PEMUDA:
Udah. Udah cukup maennya. Nih.
(memberi uang)
Buat ongkos.
PEMAIN ANGKLUNG:
Kurang, Mas.
PEMUDA:
Alaaah, cuman bentar ajah.
PEMAIN ANGKLUNG:
Tarif angkot naik, Mas.
PEMUDA:
(menggaruk-garuk kepala)
Euh, hiks. Iya deh.
(menggunakan megaphone lagi untuk teriak ke bawah)
OIII! ADA YANG PUNYA RECEH NGGAAAAK!?
Para bayangan di bawah tampak gerak-gerak walau tidak jelas maksudnya apa.
PEMUDA:
Ah, pasti ada lah, Mas. Tunggu bentar yah? Paling lama juga satu episode cuman 23 menit lah.
PEMAIN ANGKLUNG:
Iya deh, mas.
Sang PEMUDA lari ke bawah, kecapekan, ngaso dulu, beli minum, lalu lanjut lari. Total sekitar lima belas menit, tambah iklan tiga menit, jadi tinggal beberapa menit lagi buat sisa episode minggu ini.
Saat sampai di bawah, tampak SPACED-OUT GYUVAN sudah kembali melamun. MONSTER dan CEWEK sudah kenalan dan ngobrol masalah zodiak serta kartu Tarot. Sementara JENDERAL dan PARA PRAJURIT sedang maen UNO.
Sang PEMUDA langsung mengambil pose berubah bentuk.
PEMUDA:
Ima da! Change Arga!
PEMUDA berubah bentuk menjadi ARGA 0815, dengan logo baju tempur yang menunjukkan jelas-jelas nomor sponsor.
GYUVAN:
(tepuk tangan kagum)
Wah, hebat!
ARGA 0815:
Kono youni aku no aru kagiri, seigi no ikari ga ore o yobu. Arga 0815! [Terjemahan bebas: Ini adalah kata-kata standar yang saya salin dari situs web Jepang mengenai tokusatsu!]
(berpose)
Koko ni sanjyou! [Terjemahan bebas: Ya, kalimat ini juga.]
JENDERAL MUSUH:
Eeeeii!
(menghancurkan menara UNO dengan kesal dan menunjuk pada ARGA 0815)
Yare! Yare!!
PRAJURIT MUSUH:
Ki! Kii! Ki! [terjemahan bebas: Kami harap mereka memberikan kami dialog yang lebih berkelas daripada sekadar "Ki! Ki! Ki!"]
NARATOR (O.S.):
(mendeham)
Proses perubahan Arga 0815 menggunakan sinyal satelit dan memakan waktu hanya 1/100 detik.
Diperlihatkan tayangan ulang adegan PEMUDA mengambil pose berubah dalam adegan lambat ala Gaban, terus mengambil ponsel dari tas pinggang, mencet nomor...
PONSEL:
Tuuuuurrrrrrt... Nomor yang anda tuju sedang sibuk.
Tekan '1' untuk mencoba lagi walaupun tidak akan berhasil. Tekan '2' untuk komplain ke Mentari yang juga tidak akan digubris. Tekan '3' untuk mendengarkan pilihan-pilihan lain sampai nomor '99' hanya untuk menghabiskan pulsa anda.
PEMUDA:
(menepuk kepala)
Doh!
(kembali menekan nomor)
PONSEL:
Tuuuurrrrrt...klik! Halo, Pizza Hot delivery, bisa saya bantu?
PEMUDA:
Aiyaaah!
Dengan panik, PEMUDA menekan tombol berkali-kali, menghasilkan nomor telepon gaul hotline, telepon rumah dan dimarahi Ibu karena lupa ngejemput adik, salah sambung dan sempat kenalan sama seorang cewek...
JENDERAL MUSUH & PASUKANNYA:
Zzzzzzz...
Di saat yang sama, MONSTER sedang curhat pada CEWEK kalau dia bosan diberi peran antagonis melulu hanya karena faktor tampang. CEWEK sendiri mendengarkan curhat MONSTER dengan serius, sambil sesekali memberi saran. SPACED-OUT GYUVAN sesekali menimpali pembicaraan, sebelum kembali melamun.
Akhirnya hubungan telepon PEMUDA menyambung juga.
PEMUDA:
Akhirnya! Bersiaplah! Ima da! Change Arga!
PEMUDA berjalan ke sisi kamera dan tos dengan pemeran ARGA 0815. ARGA 0815 menempati posisi PEMUDA tadi.
NARATOR:
Ya! Tepat dalam waktu sepersera... er, ah, lupakan.
GYUVAN:
(tepuk tangan kagum)
Wah, hebat!
JENDERAL MUSUH:
Zzzz--eh? Oh...
(menunjuk)
Ee! Omae ha dare da!
PRAJURIT MUSUH #1:
Pak, tokoh utamanya sebelah sana, Pak.
(sambil menunjuk ke arah sebaliknya)
JENDERAL MUSUH:
Oh, ya.
(berbalik)
Omae ha dare da!
(menunjuk)
NARATOR:
Dan sekianlah episode minggu ini.
ARGA 0815 DAN PARA MUSUH:
Eh?
NARATOR:
Semoga adik - adik di rumah menikmati tayangan ini dan jangan lupa untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
GYUVAN:
Ini bukannya buat ditayangin hari Sabtu?
Arga 0815:
Target penontonnya juga bukan cuman anak-anak, lagi.
NARATOR:
(mendeham) Jangan lupa untuk menonton episode berikutnya minggu depan, dalam waktu yang sama.
MONSTER:
Tapi aku menolak tampil untuk episode berikutnya kecuali kalau aku dikasih peran yang bisa menampilkan sisi intelektual dan romantis diriku pribadi.
PRAJURIT MUSUH:
Ya, kami adalah aktor-aktor watak! [terjemahan bebas: Ki! Ki! Ki!]
CEWEK:
Gua sih nggak apa-apa. Walau gua menentang diskriminasi pembagian peran untuk aktor dan aktris hanya karena berdasarkan stereotipe jenis kelamin, tapi kalau kerjaannya kaya gini sih masih asyik-asyik aja. Eh, ngomong-ngomong, gua cabs dulu ya? Daah!
SEMUANYA:
(balas melambai)
Daaah!
SPACED-OUT GYUVAN melamun lagi.
NARATOR mendeham lagi.
ARGA 0815:
(ke JENDERAL MUSUH)
Ngomong-ngomong, ada receh ribuan nggak? Tukang angklung pribadi gua nungguin di atas nih.
JENDERAL MUSUH:
(merogoh dompet)
Lima ribu cukup?
ARGA 0815:
Sepuluh ribu aja deh, sekalian buat minggu depan.
NARATOR:
(mendeham lebih keras)
Saya rasa ini saat yang tepat untuk penutup dan nama-nama.
ENDING CREDITS ROLL, sekitar 4 menit.
FADE TO BLACK.
SPACED-OUT GYUVAN (O.S.):
Lho, semuanya pada ke mana?
TAMAT.
Sepi…
Antara kangen didalam kesendirian rasanya terasa sepi, apa yang pengen aku lakuin terasa hambar ga ada gairah....
Aku bakal datang ke Kotamu besok...tungguin aku yah...
Super Rangers (dalam Lima Menit)
Kualitas tayangan yang mereka hasilkan jelas mencerminkan persepsi mereka atas penonton serial ini. Tidak usah kita berbicara mengenai anggaran yang minim. Kostum dan peralatan seadanya bukanlah halangan, asalkan skenario dan penggarapannya serius.
Pertanyaannya: seberapa serius dua hal terakhir itu di Super Rangers? Berikut ringkasan episode generiknya. Dalam lima menit.
___________________
EXT. LOKASI OUTDOOR STANDAR NOMOR #1 - SIANG HARI
RINO, LUNA, CIMOT, ICA, dan YURIKEN, lima anak kecil yang tampak belum mampu menalikan sepatu sendiri, mendadak terkena EFEK GRAFIS KOMPUTER.
---REFF #1----
CLOSE UP pada RINO: ekspresi melongo.
CLOSE UP pada LUNA: melongo juga.
CLOSE UP pada CIMOT: tak kalah melongo.
CLOSE UP pada ICA: kalau ada Olimpiade Melongo, akan memborong medali emas.
CLOSE UP pada YURIKEN: melongo dengan begitu hebatnya sehingga aktor sinetron mana pun yang melihat akan menjura, insyaf, dan berhenti dari dunia "akting".
---Akhir REFF #1----
INT. LOKASI STUDIO MURAHAN GENERIK #1- SIANG HARI
ALPHA RANGER:
Kalian sekarang berada di luar angkasa, dalam pesawat saya yang tampaknya terbuat dari kardus.
RINO, LUNA, CIMOT, ICA, dan YURIKEN melongo. (Ulang bagian REFF #1.)
ALPHA RANGER:
Dunia kalian dalam bahaya dan hanya kalian yang bisa menyelamatkannya.
RINO, LUNA, CIMOT, ICA, dan YURIKEN kembali melongo. (Ulang bagian REFF #1.)
ALPHA RANGER:
Kalian adalah orang-orang yang terpilih karena kemampuan kalian.
PENONTON DEWASA #1:
Ya. Lahir sebagai sanak saudara produser itu kemampuan juga, lho.
ALPHA RANGER:
(mendeham)
Kalian akan kuberi kekuatan sebagai Super Rangers! Selamatkanlah Bumi!
RINO, LUNA, CIMOT, ICA, dan YURIKEN lagi-lagi melongo. (Ulang bagian REFF. Dua kali.)
PESAWAT ALPHA RANGER hancur. Anak-anak itu terlempar kembali ke Bumi. Dengan selamat dan nyaman, tentunya.
PENONTON DEWASA #1:
Hancur deh, Bumi.
PENONTON DEWASA #2:
Kalau emang niat nolong Bumi, mbok ya milih pahlawan yang minimal ngomong udah jelas, gitu.
PENONTON ANAK-ANAK:
KEREEEN!
EXT. LOKASI OUTDOOR STANDAR NOMOR #1, CUMAN BEDA BEBERAPA METER - SIANG HARI
MEGATOR:
HAHAHAHAHAHA! Saya tokoh jahat. Dan untuk menunjukkannya, saya akan tertawa keras-keras tanpa alasan setiap ngomong satu dialog. FWAGAHAHAHAHA!
BEJIBUN ANAK BUAH FIGURAN bergerak maju.
RINO, LUNA, CIMOT, ICA, dan YURIKEN:
Kami akan menghentikan kalian!
---REFF #2----
KAMERA CLOSE UP pada masing-masing anak. Satu demi satu. Adegan tiap anak akan memakan waktu kira-kira 30 detik.
MEGATOR:
(memberi isyarat sambil berbisik pada SEMUA ANAK BUAH FIGURAN)
Ssst! Kumpul semuanya! Bakal lama nih. Kita maen gaple aja dulu.
RINO:
(berpose dengan lemas dan lambat)
Ranger Rino! Kekuatan Dinosaurus!
MEGATOR:
(buang kartu balak enam)
Dengan gerakan seperti itu, pantas saja dinosaurus punah.
YURIKEN:
(berpose dengan semangat seakan-akan baru sembuh dari typhus)
Ranger Yuriken! Kekuatan Gajah Purba!
MEGATOR:
Harus spesifik gajah purba, ya? Nggak bisa gajah aja? Kenapa nggak sekalian "Kekuatan Gajah Lampung Pemain Bola yang Mencetak Gol Terbanyak"?
ICA:
(berpose seperti sedang tes senam dan curi-curi lihat gerakan anak di sebelah)
Ranger Ica! Kekuatan Panda!
MEGATOR:
Emang kekuatan panda apa, sih?
ANAK BUAH FIGURAN #1:
Mereka lambat, pemalas, dan cinta damai. Saking malasnya, tingkat perkawinan dan kelahiran mereka rendah, sehingga terancam punah.
MEGATOR:
Oh, cocok kalau gitu.
CIMOT:
(lebih parah lagi: curi-curi lihat gerakan ICA)
Ranger Cimot! Kekuatan Cheetah!
MEGATOR:
Cheetah yang kena beri-beri, kayaknya.
LUNA:
(bergerak sedemikian kakunya sampai boneka tali saja jadi terasa seanggun penari balet profesional)
Ranger Luna! Kekuatan Bulan Raksasa!
MEGATOR:
Bulan RAKSASA? Emang ada bulan mini?
ANAK BUAH FIGURAN #2:
Mungkin maksudnya yang di langit itu terlihat kecil, Pak. Kalau di layar TV kan diperlihatkannya yang besar. Sampai satu layar penuh tuh.
MEGATOR:
Bukannya itu karena faktor jarak? Aslinya kan emang sudah raksasa? Kenapa nggak sekalian aja, "Kekuatan Bulan Ukuran Sebenarnya--Jangan Tertipu oleh Jarak!" Minimal dengan itu, tayangan ini ada unsur edukasinya. Dikit.
ANAK BUAH FIGURAN #2:
Pak, kayaknya udah beres tuh.
MEGATOR:
Oke. Ayo semuanya!
---Akhir REFF #2----
RINO, LUNA, CIMOT, ICA, dan YURIKEN sudah berubah jadi Super Rangers, mengenakan helm motor yang dimodifikasi tapi tetap kelonggaran di kepala anak-anak, kostum warna-warni, dan logo RR besar di bagian dada.
MEGATOR:
Lah, Ruper Rangers dong.
ANAK BUAH FIGURAN #1:
Nggak usah dipikirin, Pak. Yang serius nonton serial ini cuman yang belum bisa baca kok.
MEGATOR:
Bukannya sutradara, produser, dan penulis skripnya juga nonton?
ANAK BUAH FIGURAN #1:
Kalau mereka bisa baca, masa skrip kayak gini bisa lolos produksi sih?
MEGATOR:
Betul juga.
ANAK BUAH FIGURAN #1:
Pak, sekarang udah masuk kamera. Ketawanya jangan lupa.
MEGATOR:
Oh, iya. HAHAHAHAHAH! Kalian akan mati!
---REFF #3---
EFEK KOMPUTER GRAFIS mengenai tim SUPER RANGERS.
Dilanjutkan dengan EFEK KOMPUTER GRAFIS mengenai PARA PENJAHAT.
Lantas EFEK KOMPUTER GRAFIS mengenai EFEK KOMPUTER GRAFIS lainnya.
Plus bonus EFEK KOMPUTER GRAFIS di saat tidak diperlukan adanya EFEK KOMPUTER GRAFIS, seakan-akan PRODUSER membayar TIM POST-PRODUCTION dengan sistem borongan dan dapat bonus: beli dua efek grafis komputer gratis satu.
---akhir REFF #3---
MEGATOR:
FWAHAHAHAHAH! WAHAHAHAHAHA! BWAHAAHAHABAHAH!
ANAK BUAH FIGURAN #2:
Nggak usah berlebihan, Pak.
MEGATOR:
Sori. Yang tadi bukan akting, cuman tertawa miris melihat masa depanku sebagai aktor hancur karena tampil di sini.
SEMUA ANAK BUAH FIGURAN BESERTA PARA PENONTON DEWASA:
....
....
.... BWAHAHAHAHAHAHAH! FAHAAWAHAHA!
PENONTON ANAK-ANAK:
KEREEEEEN!
TAMAT.
EPILOG
PENULIS SKRIP:
Sip. Lima kali pengulangan REFF #1, ditambah minimal dua kali REFF #2. Terus minimal tiga kali REFF #3 tiap episode. Itu udah empat puluh menit. Berarti untuk episode-episode berikutnya, kita cukup memasukkan cerita selama enam menit saja.
SUTRADARA:
Cerita? Buat apa?
Indonesia Bagian Nun Jauh Di Sana
Keteledoran? Tapi kok terasa benar juga, ya? Mungkin TPI hadir untuk mengingatkan kita untuk bertanya-tanya; saat ciri suatu bangsa diidentikkan dengan pola konsumsi produk kreativitas bangsa lain, akankah bangsa tersebut mengalami krisis identitas?
SELAMAT DATANG ASTAMEDIA BLOGGING SCHOOL MAKASSAR !

Sebuah gebrakan baru datang dari Makassar.
AstaMedia Group, sebuah induk perusahaan dari beberapa perusahaan online dan offline yang bergerak di bidang internet marketing, blog advertising dan Search Engine Optimalization services akan mencanangkan Blogging School Pertama di Asia.
Grand Launching AstaMedia Blogging School pada hari Sabtu besok (16/05) bertempat di Krakatau Room, Hotel Horison Makassar. Event ini akan dirangkaikan dengan sejumlah acara seperti Talk Show Pendidikan dan Internet, serta Blogging dan Kampanye Internet Sehat. Selain itu, juga akan dilakukan pengumuman dan penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba blogging, lomba essay dan lomba mading antar SMU se-Kota Makassar.
“Grand launching ini merupakan sebuah momentum berarti bagi kami untuk lebih memperkenalkan AstaMedia Blogging School kepada seluruh lapisan masyarakat kota Makassar dan sekitarnya”, ujar Muhammad Ikbal,Manager Marketing AstaMedia Group seperti dikutip dari Press Release resminya.
JADI “PAPI SITTER” LAGI
Hari Sabtu pagi (9/5) saya kembali melakoni peran sebagai Papi Sitter. Sebuah peran heboh dan pernah saya ceritakan disini (cerita tersebut memenangkan Lomba Gokil Dad). Hari itu, istri saya pamit untuk mengikuti arisan bersama ibu-ibu di gang dekat rumah saya. Alya yang ketika itu sedang libur dari sekolahnya, menolak untuk diajak ikut ibunya.
“Aku mau sama Papa aja deh, kan’ mau diajak jalan-jalan”, kata Alya sok imut sambil menggamit tangan saya yang langsung pura-pura melengos.
“Yeee…siapa yang mau jalan-jalan? Kita mau dirumah aja kok, nggak kemana-mana, iya kan’ Rizky” ledek saya sambil mengedip-ngedipkan mata ke si sulung Rizky, ngajak “berkoalisi” godain adiknya.
Tak disangka, Rizky justru malah bersikap sebaliknya.
“Nggak, kita mau jalan-jalan ke Plaza JB kok sama Papa, ya kan’ dek?” kata Rizky spontan sama melirik adiknya. Alya manggut-manggut kompak.
“Bener! Bener tuh!” ujarnya sambil mengacungkan dua jempol.
Istri saya tertawa pelan. Saya garuk-garuk kepala. Saya membayangkan kedua anak saya ini kelak saat dewasa bisa menjadi politisi handal yang piawai menggalang koalisi.
Akhirnya saya menyerah setelah didesak kedua buah hati saya itu.
Sebelum berangkat arisan, istri saya sempat berbisik.
“Jangan lupa ya, kalau ke Plaza JB, mampir di Carrefour beli susunya Rizky dan Alya juga Pembalut, udah mau habis nih,” katanya seperti menceritakan sebuah rahasia besar.
“Yaa..beli aja sendiri dong pembalutnya, say” kilah saya enggan.
“Kan’ bisa sekalian belanja dengan anak-anak, masa sih tega?” rajuk istri saya sambil mengerjap-ngerjapkan mata indahnya. Kalau sudah begini, hati langsung runtuh terkulai tak berdaya.
“Iya deh, tapi model dan merek apa aja kan’?”
“Yang pake sayap dong!”
“Hah? Sayap? Emangnya ada pembalut yang pake sayap?. Baru dengar deh kayaknya. Bisa terbang doong”, sahut saya dengan tatapan bego.
Istri saya terkikik geli. “Pokoknya lihat aja di rak pajangannya, pembalut yang ada sayap. Ih, Papa gemesin deh, masa gitu aja gak tau!” tukas istri saya sambil mencubit mesra di pinggang.
KETIKA PUISI-PUISI “BERPERANG”
Sebuah tantangan “menggairahkan” datang di kolom komentar posting saya di blog “Multiply”.
Tantangan itu datang dari Kalonica, salah satu blogger wanita dan komentator di blog saya yang menayangkan Puisi “Kita, Katamu”. dan mengajak “adu tanding” puisi setelah ia sendiri menayangkan puisi karyanya tepat dibawah Puisi yang saya tayangkan. “Temanya, kasih tak sampai”, kata Kalonica.
Saya makin kaget, ketika ternyata, ajakan itu bersambut. Biru Malam, salah satu blogger wanita juga begitu antusias mengajak saya “beradu puisi”. Ia juga memasang sebait puisinya yang memukau di blog saya itu sebagai “semacam” jawaban. Saya tak lantas cepat-cepat menyanggupi ajakan”perang” itu. Bagi saya, membuat puisi tidak sesederhana yang dibayangkan. Dibutuhkan sebuah suasana hati tersendiri untuk dapat menghasilkan karya terbaik. Tapi dibalik semua itu, saya melihat ini sebuah tantangan yang keren. Sebuah model interaksi antar blogger yang berbeda dan justru membuat inspirasi saya mendadak bergolak.
Tanpa menunggu lama-lama, sayapun membalas tantangan “perang” itu, masing-masing dengan membuat puisi balasan, untuk Kalonica dan Biru Malam.
Balasan Puisi untuk Kalonica yang saya beri judul “Mentari Merah Jambu di Matamu”:

Pelangi yang menjemputmu pulang
seperti gadis mungil berpita jingga
yang berlari kecil menggandeng tanganmu
dengan senyum riang
dan tak henti memandang mentari merah jambu
yang berpijar dari lembut matamu
Namun saat kau menganggap
setiap larik warnanya tak jua bisa menyentuh hatimu
sang gadis mungil sontak menjelma
menjadi barisan mendung hitam
yang menyamarkan pesona mata merah jambu itu
bahkan pada noktah terkecil sekalipun
Seperti dia, lelaki tepi danau
yang tekun menyulam angan menunggumu
bersama benang kangen bergulung-gulung,
kau masih tetap termangu diam
pada titik tertinggi puncak bianglala
dengan rindu menikam
sambil menyaksikan setangkai asa
yang kau titipkan pada hujan senjakala
luruh bersama bisu
juga pilu
pada mentari di merah jambu matamu
Adakah lelaki tepi danau
menangkap cahaya mata indah itu
walau hanya dari pantulan jernih air
lalu menangkap setiap desir asa yang jatuh bersamanya
dan menjadikannya
bingkai lukisan sulaman kangennya?
PUISI : KITA, KATAMU…

Kita, Katamu
Bagai dua ilalang liar
yang tumbuh di hamparan rumput halus
dimana embun enggan beranjak
dari selusur daunnya
walau terik mentari hangat menyengat
Kita, Katamu
Adalah bau tanah basah seusai hujan pagi
yang meruap perlahan mendekati jendela terbuka
pada bilik sepasang pengantin baru
yang lantas menghirup wanginya bersama
sembari tersenyum simpul
mengingat syahdu malam pertama
dengan rasa bahagia memenuhi dada
Kita, Katamu
seperti dua angsa putih berenang riang
di danau tenang
dengan sayap berkepak-kepak riuh
yang membuat air beriak
dan ikan-ikan didalamnya,
mendelik cemburu
atau mungkin mendesah patah hati
